I
Seorang tetangga pergi liburan bersama keluarganya. Sebut saja namanya Joni (bukan nama sebenarnya, alias nama samaran sekaligus pasaran).
Di suatu akhir pekan, Joni sekeluarga, bersama seorang istri, perempuan dan dua orang anak kembarnya, laki-laki semuanya berangkat menuju kampung halamannya nun di ujung pelosok Borneo untuk liburan sekaligus bernostalgia selama seminggu. Tidak ada firasat apapun ketika mereka meninggalkan rumahnya di komplek perumahan yang tidak elit-elit amat.
Suka-cita selama di kampung, mengenang masa kecilnya dulu semasa sekolah dan bermain bersama teman-teman sebayanya sedikit mengurangi kepenatan dan hiruk-pikuk suasana bising kota yang kadang terasa menjenuhkan.
Alam pedesaan di kampung menyediakan segalanya. Mau sayur tinggal petik di sekitar pekarangan, mau ikan tinggal nangguk atau mancing di danau dan sungai, beras hasil ladang keluarganya juga terlihat masih melimpah berderet dalam karung padi di lumbung sebelah rumah.
Seminggu sudah berlalu. Tibalah saatnya kembali pada rutinitas pekerjaannya di kota. Singkat narasi, tibalah mereka sekeluarga di rumah yang ditinggalkannya selama seminggu itu.
Betapa terkejutnya mereka ketika baru masuk pintu rumah terdengar suara air mengalir dari kamar mandi. Prasangka pun muncul, jangan-jangan ada yang masuk ke dalam rumah ketika mereka di kampung. Jangan-jangan ada maling. Jangan-jangan, jangan-jangan.... silahkan pembaca tambah sendiri.
Buru-buru Joni dan istrinya mengecek semua barang-barang miliknya, dari kursi tamu sampai perabot dapur. Isi lemaripun tak ketinggalan diobok-obok. Tapi tak sehelai benangpun raib. Bahkan menilik pekarangannya justru rumputnya semakin panjang.
Setelah diingat-ingat rupanya istri Joni karena buru-buru mau berangkat liburan, saking senangnya jadi lupa mematikan kran air seminggu yang lalu. Seminggu kran air lupa dimatikan.
“Tapi kok airnya tidak meluap alias tumpah ya?” Gumam istri Joni.
Itulah yang membuat keluarga Joni merasa beruntung.
“Untung Pe De A eM nya sering macet, coba kalau lancar mengalir, berapa yang mesti kita bayar?” Kata Joni.
II
Lain Joni, Lain pula Junai.
Junai (bukan nama sebenarnya, alias nama samaran walaupun tak sepasaran Joni).
Di suatu akhir pekan, Junai sekeluarga, bersama seorang istri, perempuan dan dua orang anak kembarnya, perempuan semua berangkat menuju kampung halamannya nun di dekat ujung pelosok Borneo untuk liburan sekaligus bernostalgia selama seminggu. Tidak pula ada firasat apapun ketika mereka meninggalkan rumahnya di komplek perumahan yang agak elit-elit gitu.
Suka-cita selama di kampung, mengenang masa kecilnya dulu semasa sekolah dan bermain kelayang bersama teman-teman sebayanya sedikit mengurangi kejenuhan dan hiruk-pikuk suasana bising kota yang kadang terasa menyebalkan.
Alam pedesaan di kampung menyediakan segalanya. Mau sayur tinggal ambil di sekitar pekarangan, mau ikan tinggal nangguk atau mancing di parit dan sungai, beras hasil ladang keluarganya juga terlihat masih gemuk berjejer dalam karung padi di lumbung samping rumah. Bahkan raskin pun bisa dibeli pada oknum pejabat Desa.
Seminggu sudah berlalu. Tibalah saatnya kembali pada rutinitas pekerjaannya di kota. Ketika memasuki wilayah kota, dari kejauhan istri Junai melihat asap mengepul di udara. Jantungnya berdegup kencang, firasatnya pun ikut-ikutan berkecamuk, bahkan berkata lain. Badannya serasa lemas. Jangan-jangan asap itu dari arah komplek tempat mereka tinggal, atau jangan-jangan malah rumahnya yang terbakar. Semakin mendekati Tempat Kejadian Perkara (TKP) degup jantungnya semakin kencang. Sebagai suami yang baik, Junai berusaha menenangkan istrinya walaupun perasaannya juga was-was. Kedua putrinya sedang tertidur lelap di pangkuannya.
Betapa terkejutnya keluarga Junai setibanya di rumah, ternyata rumahnya sudah hangus terbakar. Segera mereka sekeluarga keluar dari mobil disambut kerabat dan tetangganya yang coba menenangkan keluarga ini. Junai pun tak lagi bisa berkata apa-apa. Kedua anaknya spontan histeris menyaksikan kediamannya ludes di lahap si jago merah. Air matanya mengalir sederas semburan air dari pipa pemadam kebakaran. Brakk, Istri Junai pun tersungkur pingsan tak sadarkan diri.
Dalam pingsannya dia bermimpi bertemu perwakilan si jago merah yang meluluh-lantakkan kediamannya.
Si jago merah menuturkan, “Kami mengamuk lantaran listrik akhir-akhir ini sering byar-pet. Karna terlalu sering padam itulah akibatnya terjadi konsleting. Terjadilah percikan api. Pihak Pe eL eN sering menyebut kami arus pendek.
Disebut arus pendek kami jelas tak terima, kawan-kawan kami manas. Mereka lantas membuat arus panjang. Berawal dari percikan kecil itu kami menyusuri kabel listrik, tiang kayu, lemari pakaian, dan kertas dokumen yang ada. Kami melahap semua yang bisa kami lahap, menyambar apa yang bisa kami sambar. Bahkan kami sudah berusaha menyeberang ke tetangga, karna kami lihat di sana juga ada mangsa.
Tiba-tiba kami dihantam semburan air pasukan anti si jago merah alias pemadam kebakaran (damkar). Damkar pun sama membabi butanya dengan kami dan akhirnya kami keok. Kembali ke peraduan negara kami, negara api.”
Byur, setelah pingsan selama satu jam istri Junai perlahan siuman setelah diguyur secentong air PDAM samping rumahnya yang menetes gontai. Pelan-pelan.
Junai, istri, dan kedua anaknya, keempat manusia ini pun saling berpelukan haru. Mereka pun merasa untung.
“Untung kita lagi liburan, coba kalau kita lagi tiduran. Jangan-jangan kita yang terbakar” Kata Junai.
III
(Cerita ini bisa fiksi bisa pula fakta. Cerita ini imajinasi belaka. Jika ada kesamaan nama dan karakter dalam cerita ini, barangkali di DPT (Daftar Pemilih Tetap) berbeda. Jika di DPT sekalipun sama, alias DPT ganda, pilihan contrengannya mungkin saja beda. Jika masih pilihannya sama, berarti ada indikasi kecurangan. Tapi toh Cuma imajinasi. Melaporkan persoalan ini ke Mahkamah Konstitusi (MK) sama saja bikin blunder. Daripada bikin blunder mending bikin bubur pedas, bisa makan ramai-ramai sambil baca tulisan ini.)
Diberdayakan oleh Blogger.