Realistis

Ini cerita sekitar 8 tahun yang lalu.....

Ketika diadakan penyuluhan tentang makanan sehat terhadap warga pengungsi oleh salah satu eL eS eM terkemuka di Indonesia, dengan segala kepiawaiannya sang aktifis menjelaskan tulisannya yang terpampang di kertas plano tentang komponen makanan sehat, kebutuhan kalori setiap harinya, dan pasokan air yang ideal dalam tubuh manusia agar tubuh tetap fit dan prima selalu dalam menggarap lahan pertanian gambut di relokasi.

Sebagian besar peserta penyuluhan mendengarkan dengan seksama sambil sesekali pikirannya menerawang jauh entah kemana. Tiba-tiba Mad Hajir nyeletuk, “Maaf mas, Saya sebenarnya bukan tak tahu tentang makanan sehat, cuma yang mau dimakan tidak ada”. “Betuuul... Kata teman-temannya yang lain, kecuali Dul Mujab hanya memandangi Mad Hajir sambil mengernyitkan dahinya.

Saat acara istirahat, Mad Hajir dipanggil Dul Mujab.
“Kamu jangan biasakan nyeletuk begitu, nanti kita dibilang cerewet, keras kepala, tidak menghargai mereka yang telah susah payah membantu kita” Kata Dul Mujab.
“Lho, aku kan cuma menyampaikan kondisi yang sebenarnya. Kok dibilang nyeletuk. Ganteng-ganteng begini juga pernah hidup berkecukupan ketika dulu di Sambas. Jangankan makanan sehat, makanan tambahan yang biasa disebut suplement food aku juga tahu. Tapi disini, keadaannya memang begitu kok. Jangankan makanan sehat, bisa makan sehari sekali aja syukur. Kita hidup ini mesti realistis dong”. Bantah Mad Hajir.

“Dia enak, pulang dari sini makan makanan sehat, kebutuhan gizinya bahkan mungkin berlebih, setiap bulan gajian. Kita pulang dari sini ke rumah masing-masing makan apa? Paling-paling makan nasi jagung, (maaf) apa yang masuk dengan apa yang keluar warnanya sama. Tidak realistis kan?” Tambah Mad Hajir.

“Dari tadi ngomongnya realistis melulu. Emang realistis itu makanan apa sih?” Tanya Dul Mujab.
“Makanan orang-orang kampus. Orang kayak kamu ndak cocok, bisa sakit perut” Jawab Mad Hajir mantap.
Share on Google Plus

Tentang Unknown

Lahir di Karimunting, Sungai Raya Kepulauan, Sebuah desa di Pesisir Bengkayang Kalimantan Barat. Bertumbuh kembang dari situasi sosial Kalimantan Barat yang kadang adem ayem, kadang menegangkan, kadang mencekam, dan kadang kabut asap. Kini tinggal di Relokasi SP 1 Madani, Mekar Sari, Sungai Raya Kubu Raya.
Diberdayakan oleh Blogger.