Oleh; Subro
Tak pernah terbayang sebelumnya oleh Unggal bahwa suatu saat nanti akan terjadi kerusuhan didaerahnya, apalagi dia harus kehilangan kedua orang tuanya dan akan hidup dari kasih sayang orang lain. Unggal kecil hanya sibuk bermain ria bersama teman-teman seusianya tanpa harus membedakan dia itu madura, melayu ataupun dayak. Ketika itu usia Unggal diperkirakan beranjak 5 tahun. Unggal kecil yang sedang lucu-lucunya itu tentu tinggal bersama kedua orangtuanya yang juga sangat menyayanginya.
Namun Yang Maha Perkasa berkehendak lain. Jawai. seketika pedesaan itu menjadi riuh resah, pekik histeris, dendam, api angkara murka, bau anyir darah bercampur amarah bergumul dalam kepulan asap hitam pekat dari pembakaran rumah-rumah beserta isinya diiringi tangis kematian bersahut-sahutan menggelegar ke angkasa bersama suara burung gagak……………. Itulah salah satu kondisi dimana kerusuhan sosial Sambas terjadi pada tahun 1999.
Sama sekali diluar kesadaran Unggal, kalau ia sebagai keturunan anak cucu Adam yang suka bertikai (sebagaimana kisah putra Adam, Qabil dan Habil) dan tak ingin mewarisinya, justru semakin diperparah oleh prasangka negatif yang berkembang dilingkungan sekitarnya lantaran beda suku dan agama. Kalau saja Unggal sadar sebagai generasi dia akan menanggung derita akibat permusuhan turun temurun itu, tentu dia akan protes kepada Tuhan “kenapa Tuhan jadikan aku sebagai makhluk jenis manusia yang suka kerusakan dan menumpahkan darah, bukan sebagai malaikat yang senantiasa bertasbih kepada-Mu dan mensucikan-Mu?” mirip dialog Malaikat dengan Tuhan sebagaimana termaktub dalam kitab suci ketika pertama kali akan menciptakan manusia.
Pertikaian atas nama marwah berkecamuk begitu dahsyat terus terjadi diseluruh kawasan Kabupaten Sambas, tak terhitung lagi berapa jumlah korban yang jatuh, diberbagai penjuru sejauh mata memandang yang terlihat hanya kepulan asap. Ketika pertikaian mereda, mayat-mayat bergelimpangan, bau anyir menyengat, sekelompok pasukan perang melakukan penyisiran dibekas lokasi pertikaian, tiba-tiba seorang pemuda lajang salah satu dari mereka -sebut saja Frans (nama samaran)- melihat seorang anak kecil menangis tersedu-sedu diantara onggokan mayat yang berserakan disana sini dengan kondisi tubuh yang tak lagi utuh.
Frans lantas mendekat, anak itu ketakutan dan terus menangis. Naluri kemanusiaannya terenyuh. Belakangan diketahui anak itu bernama zulfikar.
Perangpun usai, seluruh pasukan harus kembali ke daerahnya masing-masing. Frans termasuk salah satu dari sekian banyak pasukan perang yang datang dari daerah lain. Zulfikar kemudian dibawa Frans ke daerah asalnya di Monterado Kecamatan Samalantan . Jarak tempuh antara Monterado dan Jawai sekitar 120 KM melalui jalan darat dan harus menyeberangi sungai.
^^^^^
Zulfikar hidup bersama Frans di Monterado, hari-hari dilaluinya dengan biasa-biasa saja. Hidup sendirian sebagai bujangan tentu Frans belum berpengalaman mengasuh anak kecil apalagi dengan keadaan Zulfikar yang cukup nakal dimata Frans. Sehingga tidak jarang Frans kehilangan kesabaran dan menjadi ringan tangan. Berkali-kali Zulfikar mendapat ganjaran berupa pukulan dikaki, tangan dan kepala, bahkan disekujur tubuhnya. Zulfikar hanya bisa menangis dan menangis lagi manakala mendapat pukulan dari Frans.
Lama-lama Frans juga tak tega memukuli Zulfikar terus menerus. Dipandanginya anak itu dengan berbagai perasaan, dibenaknya berkecamuk rasa emosi dan empati. Frans tidak lagi sebagai pasukan perang. Mengingat kerusuhan Sambas sudah mereda, akhirnya Frans memutuskan untuk mengembalikan Zulfikar ke Jawai dengan harapan ada orang yang mengetahui keberadaan orang tua, keluarga atau ahli warisnya.
Frans membawa Zulfikar kembali ke Jawai. Perjalanan kali ini terasa berbeda bagi Frans dibandingkan dengan ketika beberapa bulan yang lalu waktu ia menjadi pasukan perang, selain kondisinya sudah tidak lagi hiruk pikuk, jarak yang ditempuhnya juga terasa jauh sekali dan sangat melelahkan. Sepanjang jalan yang terlihat hanya puing-puing reruntuhan bangunan dan sisa pembakaran yang disekelilingnya sudah ditumbuhi rerumputan dan semak belukar.
Sesampainya di Jawai, setelah berkeliling kesana kemari Frans tidak lagi mendapatkan kabar tentang keberadaan keluarga Zulfikar. Frans lantas menawarkan Zulfikar kepada beberapa orang yang ia kenal sebelumnya. Zulfikar kemudian diadopsi oleh pasangan suami-isteri yang sudah lama menikah tapi belum dikaruniai keturunan, sebut saja keluarga Hendra (nama samaran).
Frans pun tidak ada alasan lagi untuk berlama-lama di Jawai. Dia ingin segera kembali ke Monterado. Berat rasanya meninggalkan Zulfikar. Dengan mata berkaca-kaca Frans mencium Zulfikar seraya bergegas kembali pulang ke kampung asalnya, Monterado.
^^^^^
Tinggal bersama keluarga Hendra memberikan harapan hidup baru bagi Zulfikar, hari-hari pertama Zulfikar hidup ditengah keluarga Hendra dengan penuh perhatian dan mendapat kasih sayang dari kedua suami isteri itu layaknya kasih sayang kedua orang tua kepada anak semata wayangnya. Kegembiraan Zulfikar adalah kebahagiaan keluarga Hendra. sebaliknya, kesedihan Zulfikar adalah duka bagi Hendra dan isterinya. Demikian pula bagi keluarga tetangga dan anak-anaknya. Zulfikar mendapat kawan bermain anak-anak seusianya. Hanya saja Zulfikar harus selalu ingat pesan keluarga Hendra, kalau sewaktu-waktu ada yang menanyakan siapa Zulfikar? Dia harus tegas menjawab “saya orang melayu”. Hal itu dilakukan oleh keluarga Hendra demi keamanan Zulfikar.
Dalam penantian panjangnya seiring pergantian waktu, keluarga Hendra menemukan titik terang. Isteri Pak Hendra hamil, ….. detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan beredar sesuai dengan ketetapan-Nya. dan setelah cukup bulan, isteri Pak Hendra melahirkan anak pertamanya. Kebahagiaan keluarga Hendra semakin dilengkapi dengan kelahiran anaknya, demikian pula dengan Zulfikar.
Akan tetapi kenyataan berkata lain, setelah keluarga Hendra punya anak, kasih sayang keluarga itu perlahan berpaling kepada anaknya. Zulfikar memang tidak dilahirkan dari rahim isteri Pak Hendra, lagi-lagi karena kenakalannya Zulfikar sering mendapat ganjaran dan siksaan. Kalau ketika di Monterado Zulfikar mendapat pukulan dari satu orang, kali ini dia harus menghadapi kenyataan lebih. Zulfikar harus menerima siksaan dari kedua orang tua angkatnya. Karena terlalu sering mendapat siksaan sehingga kepalanya luka-luka. Zulfikar juga dipekerjakan mengumpulkan pasir dipantai untuk dijual Pak Hendra, kadang juga disuruh mencuri kelapa tetangga, kalau ia menolak atau tidak mendapatkan hasil, maka Zulfikar harus siap menanggung akibatnya. Selain siksaan dia juga tidak jarang harus terima jatah makan cukup sekali sehari.
Zulfikar sedih, hatinya terluka. Dalam linangan air mata yang tak lagi mengalir ia terkenang kedua orang tuanya.
Lengkap sudah penderitaan Zulfikar, diusianya yang masih belia dan sangat memerlukan belaian kasih sayang orang tua, yang dihadapi justru sebaliknya. Derita fisik dan batinnya membuat pertumbuhan dan perkembangannya berjalan lamban.
Zulfikar sering menyendiri. Ada gejolak jiwa disana, seakan lebih baik mati bersama kedua orang tuanya ketika kerusuhan dari pada harus hidup menanggung derita berkepanjangan. Di alam sana, kedua orang tuanya tentu juga bersedih manakala melihat Zulfikar bersedih.
Dalam kesendiriannya diam-diam keluarga Hendra juga memperhatikan Zulfikar. Melihat Zulfikar sedih, naluri kemanusiaannya sebagai orang tua tersentuh dan membuat keduanya terlibat pembincangan serius. Dan dalam pembicaraan yang cukup serius, timbul pemikiran untuk menawarkan Zulfikar kepada tetangganya.
Atas pertimbangan rasa kemanusiaan pula Zulfikar kemudian diadopsi oleh sebuah keluarga yang berasal dari Aceh dan sudah memiliki anak, sebut saja keluarga Ja’far. Pak Ja’far berprofesi sebagai guru agama pada salah satu sekolah dasar di Jawai. Isteri Pak Ja’far sedang hamil tua. Karena Pak Ja’far sudah punya anak banyak dan isterinya sedang hamil tua, keluarga ini sadar dan khawatir betapa akan berdosa kalau saja tidak mampu memegang amanah memberikan kasih sayang yang penuh kepada Zulfikar. Dari benaknya yang paling dalam betapa keluarga Pak Ja’far ingin sekali mengasuh Zulfikar. Apalagi keluarga ini juga tahu perjalanan hidup Zulfikar. Pak Ja’far teringat kepada temannya yang juga berasal dari Aceh dan juga berprofesi sebagai guru agama. Namanya Pak Arjuna.
Pak Arjuna tinggal di Desa Pasar Gunung Kecamatan Capkala yang sebelumnya Kecamatan Sungai Raya bersama isteri tercintanya tidak jauh dari tempatnya mengajar. Dan ketika Pak Arjuna mendapat kabar tentang hal ini, kemudian Pak Arjuna mengajak Pak Udin untuk melihat Zulfikar sekaligus menawarkan untuk mengadopsinya kepada Pak Udin.
Ketika itu Pak Udin masih sebagai Kepala Sekolah SDN 20 Pasar Gunung tempat Pak Arjuna mengajar, dan keluarga Pak Udin sendiri bertempat tinggal di Desa Karimunting Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Bengkayang.
Sampai pada waktunya, dengan berboncengan mengendarai sepeda motor Pak Arjuna dan Pak Udin berangkat ke Jawai. Jarak yang harus ditempuh antara Jawai dan Pasar Gunung sekitar 100 KM jalan darat dengan harus menyeberangi sungai. Berangkat pagi hari tiba pada siang hari. Setelah Pak Udin melihat keadaan Zulfikar dan mengajak anak itu tinggal bersama keluarganya, tanpa pikir panjang ternyata Zulfikar langsung mau ikut bersama Pak Udin.
Zulfikar pun dibawa ke Karimunting oleh Pak Udin bersama Pak Arjuna dengan berboncengan mengendarai sepeda motor. Sebagai tanggung jawab moral, Pak Ja’far bersama isterinya -yang sedang hamil tua- ikut mengantar kepergian Zulfikar dengan mengendarai sepeda motor juga untuk memastikan alamat tempat tinggal Zulfikar yang baru.
Setelah tiba di Karimunting tepatnya dirumah Pak Udin, dan berkenalan sembari beramah tamah dengan keluarga Pak Udin, Pak Ja’far dan isterinya harus segera kembali pulang kerumahnya di Jawai. Dipeluknya Zulfikar dengan penuh kasih sayang, kedua orang tua itu tidak mampu berkata-kata lagi. Matanya berkaca-kaca, air mata deras tak terbendung mengalir dari kedua pelupuk matanya. Seketika suasana menjadi hening, keluarga Pak Udin juga larut dalam keharuan peluk cium kedua orang tua dan anak kecil itu. Setelah berpamitan, Pak Ja’far dan isterinya bergegas pulang.
Dalam beberapa saat, pasangan suami istri itu sudah berlalu bersama desiran angin dan gemercik air laut diiringi hempasan gelombang pantai Karimunting.
^^^^^
16 April 2000 adalah awal Zulfikar Tinggal di Karimunting bersama keluarga Pak Udin.
Pak Udin adalah panggilan populer dari nama lengkapnya Izharuddin Husin AMa.Pd, seorang keturunan Melayu, saat ini berprofesi sebagai Kepala Sekolah di SDN 10 Desa Karimunting Kecamatan Sungai Raya. Isterinya bernama Komariah Ratna, sebelumnya bernama Kresensiana Ratna dan berganti nama menjadi Komariah Ratna setelah memeluk agama Islam dan menikah dengan Pak Udin, biasa dipanggil Bu Ratna, keturunan Dayak dari Desa Lingga Kecamatan Sungai Ambawang Kabupaten Pontianak, berprofesi sebagai guru di SDN 15 Desa Sungai Raya Kecamatan Sungai Raya.
Pak Udin dan Bu Ratna dikaruniai 4 orang anak (2 putri dan 2 putra). 3 dari 4 orang anaknya sudah berkeluarga. dan keluarga Pak Udin sudah dikaruniai 4 orang cucu dari 2 putrinya yang sudah berumah tangga. 1 orang putranya juga sudah berkeluarga tapi belum dikaruniai keturunan. 1 orang lagi putranya yang paling bungsu masih bersekolah di sebuah Pondok Pesantren di Kabupaten Pontianak.
Selain mengajar di pagi hari, keluarga Pak Udin juga bertani dan berkebun jeruk pada sore harinya. Keluarga Pak Udin memiliki sebuah mobil mini bus (mobil penumpang jurusan Singkawang-Sungai Duri).
“Itto’ oto ke yah?”/ ini mobil Pak ya? Sambil tangannya mengusap kaca mobil mini bus itu, “demikian kalimat pertama ketika pertama kalinya Zulfikar tiba di rumah ini” kata Pak Udin mengenang.
Dalam perjalanannya Pak Udin mengganti nama Zulfikar dengan nama “Juniardi” dengan perkiraan tanggal lahirnya pada 16 Juni 1994. Saat ini Juniardi sudah kelas empat SD. Juniardi kelihatannya masih trauma, terlihat dari kecerdasannya yang agak lamban dan minder dalam pergaulan. Keempat anak Pak Udin –sebagaimana kebiasaan orang melayu- dalam kesehariannya masing-masing memiliki panggilan. Anak yang sulung/paling tua dipanggil Allung, yang kedua dipanggil Angah, yang ketiga dipanggil Udde, dan yang bungsu/keempat dipanggil Usu. Dalam keluarga Pak Udin, Juniardi juga mendapat panggilan yaitu Unggal, kependekan dari “Tunggal” (bahasa Melayu untuk anak tunggal, atau setara dengan makna sebatang kara atau yatim piatu)
Suka duka hidup bersama keluarga Pak Udin. Unggal tetap sebagai anak yang nakal. Karena kenalannya itu pula, Pak Udin sempat terpikir untuk menitipkan Unggal ke Panti Asuhan, tapi isteri Pak Udin, Bu Ratna tidak tega melepaskan Unggal. Bu Ratna sangat menyayangi Unggal, demikian juga anak-anaknya.
“Walaupun keluarga kami marah kepada Unggal, bukan karena benci tapi semata-mata karena kami sangat menyayanginya. Kadang pulang sekolah, Unggal pergi bermain bersama teman-temannya dan baru pulang sore hari sampai lupa makan sehingga kami memarahinya”. Ungkap Bu Ratna didampingi Pak Udin, sementara Unggal disampingnya hanya nyegir tersipu.
Pernah suatu saat, waktu senja sudah tiba, menjelang masuk maghrib Unggal belum juga pulang kerumah sejak sore hari ikut teman-temannya bermain kelayang, padahal Unggal harus mengaji. Pak Udin sibuk mencarinya kesana kemari, dalam keadaan hampir putus asa bercampur emosi, Unggal ditemukan bersebunyi dibalik sebuah sampan dibawah kolong rumah tetangga. Unggal dibawa pulang dan dipukul kakinya dengan sebuah ikat pinggang. Unggal pun hanya bisa menangis. Rasa iba Pak Udin muncul, setelah ditanya kenapa Unggal terlambat pulang dan malah bersembunyi? Unggal menjawab sambil terisak, bahwa dia ditakut-takuti teman-temannya kalau pulang akan dipukul oleh Pak Udin, sehingga membuat Unggal tidak berani pulang dan bersembunyi dibawah kolong rumah tetangga.
“Setelah melihat anak itu bersedih saya sangat menyesal, dan saya tidak pernah memukulnya lagi sampai saat ini. Saya jadi berpikir, seandainya suatu saat saya meninggal dan anak saya dipukuli orang, kalau saya tahu hal itu tentu perasaan saya akan terluka. Apalagi dia anak yatim piatu, kalau dia saya perlakukan kasar dan sampai menangis. Dalam kesedihannya yang mendalam, kemana dia akan mengadu? Unggal kurang lebih lima tahun bersama kami, bagi kami Unggal bukan orang lain lagi, dia sudah menjadi bagian dari keluarga kami” jelas Pak Udin dengan mimik mukanya jauh menerawang kebelakang.
Kadang Unggal juga teringat akan sepenggal perjalanan masa lalu bersama kedua orang tuanya, walaupun lupa akan nama bapaknya yang asli, konon bapaknya biasa dipanggil “Pak Konteng”. dan ketika kerusuhan terjadi, seorang kakak perempuannya sedang bekerja di Malaysia. Sampai sekarang Unggal tidak tahu nasib kakak perempuannya itu. “Pernah juga terpikir, suatu saat saya ingin mengajak Unggal jalan-jalan ke Jawai untuk melihat-lihat keadaan disana, mungkin saja dia akan ingat kampung halaman dan keluarganya sewaktu dikampung dulu. Tapi perasaan saya diliputi kekhawatiran kalau hal itu justru akan membangkitkan trauma masa lalunya”. Ujar Pak Udin gundah. “Biarlah kenangan kelam masa silam itu tenggelam bersama tenggelamnya matahari kala senja diufuk barat Karimunting. Kalaupun harus muncul kembali, ingatan itu akan muncul laksana terbitnya matahari di pagi hari yang membawa secercah harapan untuk masa depan.” Tambah Pak Udin optimis.
Hidup sebagai keluarga berkecukupan tidak lantas membuat keluarga ini lupa diri. Pak Udin dan Bu Ratna selalu bersyukur dan memberikan motivasi kepada anak-anaknya bahwa dibalik pahit manisnya kehidupan tersimpan hikmah yang mendalam. Apalagi kalau mengingat masa lalu ketika awal ditugaskan menjadi guru didaerah pedalaman Sanggau Kapuas. Dari tempat tinggal menuju tempat mengajar setiap hari harus berjalan kaki turun naik bukit selama dua jam melalui jalan setapak. Hal ini diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi keluarga Pak Udin bahwa kerja keras yang disertai do’a tidak akan berakhir sia-sia.
Kehadiran Unggal ditengah keluarga Pak Udin membuat keluarga itu semakin merasakan dinamika hidup berkeluarga. Karena kenakalannya Pak Udin terkadang emosi dan marah pada Unggal, tapi pada saat yang bersamaan pula Pak Udin akan mendapat teguran dari isteri atau anaknya.
Selain Yang Maha Kuasa, rasanya tidak ada seorangpun yang dapat memisahkan keluarga ini. Unggal juga sudah sangat menyatu dengan cucu-cucu Pak Udin dan Bu Ratna. Unggallah yang kadang mengasuh cucunya kalau kebetulan orang tua cucunya itu sedang ada kesibukan.
Pernah juga suatu saat, anak Pak Udin harus pindah rumah dan cucunya harus ikut bersama orang tuanya sementara Unggal tetap tinggal bersama Pak Udin. Setelah pindah selama seminggu, kesehatan cucu Pak Udin semakin hari semakin menurun, dan kemudian anak itu jatuh sakit. Mendengar kabar tersebut, Pak Udin lantas mengajak Unggal untuk menjenguk cucunya.
“Sesampainya ditempat sang cucu, ketika melihat Unggal datang, anak itu langsung menangis dan Unggal pun segera memeluknya dengan erat. Perlahan anak itu bangun dan kondisinya berangsur pulih.” Kenang Pak Udin dengan mata berkaca-kaca.
Pak Udin selalu optimis, dalam asuhan keluarganya, kelak Unggal akan tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik, dewasa dan mandiri sebagaimana anak-anaknya yang lain.
Unggal, seorang anak korban kerusuhan Sambas, dengan perjalanan hidupnya yang terjal, berliku dan penuh romantika, kini tinggal bersama sebuah keluarga yang sangat menyayanginya. Lantas bagaimana nasib Unggal-Unggal yang lain?
^^^^^
(Kisah ini kutulis di tahun 2005, saat bersama teman-teman terlibat dalam kegiatan active non-violence resistance bersama Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian Universitas Gajah Mada (PSKP-UGM). Naskah ini (entah karena alasan apa) tidak dimuat dalam buku “Perlawanan Tanpa Kekerasan”. Entah kenapa pula hari ini aku ingin memuatnya dalam catatanku.
Sekitar setahun yang lalu, seorang sahabat di Karimunting mengirim kabar bahwa Pak Udin wafat, diduga keracunan saat bekerja menyemprotkan racun serangga di kebun jeruknya. Selamat Jalan Pak Udin, guru, sahabat, dan teladanku. Damailah di alam sana).
Tak pernah terbayang sebelumnya oleh Unggal bahwa suatu saat nanti akan terjadi kerusuhan didaerahnya, apalagi dia harus kehilangan kedua orang tuanya dan akan hidup dari kasih sayang orang lain. Unggal kecil hanya sibuk bermain ria bersama teman-teman seusianya tanpa harus membedakan dia itu madura, melayu ataupun dayak. Ketika itu usia Unggal diperkirakan beranjak 5 tahun. Unggal kecil yang sedang lucu-lucunya itu tentu tinggal bersama kedua orangtuanya yang juga sangat menyayanginya.
Namun Yang Maha Perkasa berkehendak lain. Jawai. seketika pedesaan itu menjadi riuh resah, pekik histeris, dendam, api angkara murka, bau anyir darah bercampur amarah bergumul dalam kepulan asap hitam pekat dari pembakaran rumah-rumah beserta isinya diiringi tangis kematian bersahut-sahutan menggelegar ke angkasa bersama suara burung gagak……………. Itulah salah satu kondisi dimana kerusuhan sosial Sambas terjadi pada tahun 1999.
Sama sekali diluar kesadaran Unggal, kalau ia sebagai keturunan anak cucu Adam yang suka bertikai (sebagaimana kisah putra Adam, Qabil dan Habil) dan tak ingin mewarisinya, justru semakin diperparah oleh prasangka negatif yang berkembang dilingkungan sekitarnya lantaran beda suku dan agama. Kalau saja Unggal sadar sebagai generasi dia akan menanggung derita akibat permusuhan turun temurun itu, tentu dia akan protes kepada Tuhan “kenapa Tuhan jadikan aku sebagai makhluk jenis manusia yang suka kerusakan dan menumpahkan darah, bukan sebagai malaikat yang senantiasa bertasbih kepada-Mu dan mensucikan-Mu?” mirip dialog Malaikat dengan Tuhan sebagaimana termaktub dalam kitab suci ketika pertama kali akan menciptakan manusia.
Pertikaian atas nama marwah berkecamuk begitu dahsyat terus terjadi diseluruh kawasan Kabupaten Sambas, tak terhitung lagi berapa jumlah korban yang jatuh, diberbagai penjuru sejauh mata memandang yang terlihat hanya kepulan asap. Ketika pertikaian mereda, mayat-mayat bergelimpangan, bau anyir menyengat, sekelompok pasukan perang melakukan penyisiran dibekas lokasi pertikaian, tiba-tiba seorang pemuda lajang salah satu dari mereka -sebut saja Frans (nama samaran)- melihat seorang anak kecil menangis tersedu-sedu diantara onggokan mayat yang berserakan disana sini dengan kondisi tubuh yang tak lagi utuh.
Frans lantas mendekat, anak itu ketakutan dan terus menangis. Naluri kemanusiaannya terenyuh. Belakangan diketahui anak itu bernama zulfikar.
Perangpun usai, seluruh pasukan harus kembali ke daerahnya masing-masing. Frans termasuk salah satu dari sekian banyak pasukan perang yang datang dari daerah lain. Zulfikar kemudian dibawa Frans ke daerah asalnya di Monterado Kecamatan Samalantan . Jarak tempuh antara Monterado dan Jawai sekitar 120 KM melalui jalan darat dan harus menyeberangi sungai.
^^^^^
Zulfikar hidup bersama Frans di Monterado, hari-hari dilaluinya dengan biasa-biasa saja. Hidup sendirian sebagai bujangan tentu Frans belum berpengalaman mengasuh anak kecil apalagi dengan keadaan Zulfikar yang cukup nakal dimata Frans. Sehingga tidak jarang Frans kehilangan kesabaran dan menjadi ringan tangan. Berkali-kali Zulfikar mendapat ganjaran berupa pukulan dikaki, tangan dan kepala, bahkan disekujur tubuhnya. Zulfikar hanya bisa menangis dan menangis lagi manakala mendapat pukulan dari Frans.
Lama-lama Frans juga tak tega memukuli Zulfikar terus menerus. Dipandanginya anak itu dengan berbagai perasaan, dibenaknya berkecamuk rasa emosi dan empati. Frans tidak lagi sebagai pasukan perang. Mengingat kerusuhan Sambas sudah mereda, akhirnya Frans memutuskan untuk mengembalikan Zulfikar ke Jawai dengan harapan ada orang yang mengetahui keberadaan orang tua, keluarga atau ahli warisnya.
Frans membawa Zulfikar kembali ke Jawai. Perjalanan kali ini terasa berbeda bagi Frans dibandingkan dengan ketika beberapa bulan yang lalu waktu ia menjadi pasukan perang, selain kondisinya sudah tidak lagi hiruk pikuk, jarak yang ditempuhnya juga terasa jauh sekali dan sangat melelahkan. Sepanjang jalan yang terlihat hanya puing-puing reruntuhan bangunan dan sisa pembakaran yang disekelilingnya sudah ditumbuhi rerumputan dan semak belukar.
Sesampainya di Jawai, setelah berkeliling kesana kemari Frans tidak lagi mendapatkan kabar tentang keberadaan keluarga Zulfikar. Frans lantas menawarkan Zulfikar kepada beberapa orang yang ia kenal sebelumnya. Zulfikar kemudian diadopsi oleh pasangan suami-isteri yang sudah lama menikah tapi belum dikaruniai keturunan, sebut saja keluarga Hendra (nama samaran).
Frans pun tidak ada alasan lagi untuk berlama-lama di Jawai. Dia ingin segera kembali ke Monterado. Berat rasanya meninggalkan Zulfikar. Dengan mata berkaca-kaca Frans mencium Zulfikar seraya bergegas kembali pulang ke kampung asalnya, Monterado.
^^^^^
Tinggal bersama keluarga Hendra memberikan harapan hidup baru bagi Zulfikar, hari-hari pertama Zulfikar hidup ditengah keluarga Hendra dengan penuh perhatian dan mendapat kasih sayang dari kedua suami isteri itu layaknya kasih sayang kedua orang tua kepada anak semata wayangnya. Kegembiraan Zulfikar adalah kebahagiaan keluarga Hendra. sebaliknya, kesedihan Zulfikar adalah duka bagi Hendra dan isterinya. Demikian pula bagi keluarga tetangga dan anak-anaknya. Zulfikar mendapat kawan bermain anak-anak seusianya. Hanya saja Zulfikar harus selalu ingat pesan keluarga Hendra, kalau sewaktu-waktu ada yang menanyakan siapa Zulfikar? Dia harus tegas menjawab “saya orang melayu”. Hal itu dilakukan oleh keluarga Hendra demi keamanan Zulfikar.
Dalam penantian panjangnya seiring pergantian waktu, keluarga Hendra menemukan titik terang. Isteri Pak Hendra hamil, ….. detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan beredar sesuai dengan ketetapan-Nya. dan setelah cukup bulan, isteri Pak Hendra melahirkan anak pertamanya. Kebahagiaan keluarga Hendra semakin dilengkapi dengan kelahiran anaknya, demikian pula dengan Zulfikar.
Akan tetapi kenyataan berkata lain, setelah keluarga Hendra punya anak, kasih sayang keluarga itu perlahan berpaling kepada anaknya. Zulfikar memang tidak dilahirkan dari rahim isteri Pak Hendra, lagi-lagi karena kenakalannya Zulfikar sering mendapat ganjaran dan siksaan. Kalau ketika di Monterado Zulfikar mendapat pukulan dari satu orang, kali ini dia harus menghadapi kenyataan lebih. Zulfikar harus menerima siksaan dari kedua orang tua angkatnya. Karena terlalu sering mendapat siksaan sehingga kepalanya luka-luka. Zulfikar juga dipekerjakan mengumpulkan pasir dipantai untuk dijual Pak Hendra, kadang juga disuruh mencuri kelapa tetangga, kalau ia menolak atau tidak mendapatkan hasil, maka Zulfikar harus siap menanggung akibatnya. Selain siksaan dia juga tidak jarang harus terima jatah makan cukup sekali sehari.
Zulfikar sedih, hatinya terluka. Dalam linangan air mata yang tak lagi mengalir ia terkenang kedua orang tuanya.
Lengkap sudah penderitaan Zulfikar, diusianya yang masih belia dan sangat memerlukan belaian kasih sayang orang tua, yang dihadapi justru sebaliknya. Derita fisik dan batinnya membuat pertumbuhan dan perkembangannya berjalan lamban.
Zulfikar sering menyendiri. Ada gejolak jiwa disana, seakan lebih baik mati bersama kedua orang tuanya ketika kerusuhan dari pada harus hidup menanggung derita berkepanjangan. Di alam sana, kedua orang tuanya tentu juga bersedih manakala melihat Zulfikar bersedih.
Dalam kesendiriannya diam-diam keluarga Hendra juga memperhatikan Zulfikar. Melihat Zulfikar sedih, naluri kemanusiaannya sebagai orang tua tersentuh dan membuat keduanya terlibat pembincangan serius. Dan dalam pembicaraan yang cukup serius, timbul pemikiran untuk menawarkan Zulfikar kepada tetangganya.
Atas pertimbangan rasa kemanusiaan pula Zulfikar kemudian diadopsi oleh sebuah keluarga yang berasal dari Aceh dan sudah memiliki anak, sebut saja keluarga Ja’far. Pak Ja’far berprofesi sebagai guru agama pada salah satu sekolah dasar di Jawai. Isteri Pak Ja’far sedang hamil tua. Karena Pak Ja’far sudah punya anak banyak dan isterinya sedang hamil tua, keluarga ini sadar dan khawatir betapa akan berdosa kalau saja tidak mampu memegang amanah memberikan kasih sayang yang penuh kepada Zulfikar. Dari benaknya yang paling dalam betapa keluarga Pak Ja’far ingin sekali mengasuh Zulfikar. Apalagi keluarga ini juga tahu perjalanan hidup Zulfikar. Pak Ja’far teringat kepada temannya yang juga berasal dari Aceh dan juga berprofesi sebagai guru agama. Namanya Pak Arjuna.
Pak Arjuna tinggal di Desa Pasar Gunung Kecamatan Capkala yang sebelumnya Kecamatan Sungai Raya bersama isteri tercintanya tidak jauh dari tempatnya mengajar. Dan ketika Pak Arjuna mendapat kabar tentang hal ini, kemudian Pak Arjuna mengajak Pak Udin untuk melihat Zulfikar sekaligus menawarkan untuk mengadopsinya kepada Pak Udin.
Ketika itu Pak Udin masih sebagai Kepala Sekolah SDN 20 Pasar Gunung tempat Pak Arjuna mengajar, dan keluarga Pak Udin sendiri bertempat tinggal di Desa Karimunting Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Bengkayang.
Sampai pada waktunya, dengan berboncengan mengendarai sepeda motor Pak Arjuna dan Pak Udin berangkat ke Jawai. Jarak yang harus ditempuh antara Jawai dan Pasar Gunung sekitar 100 KM jalan darat dengan harus menyeberangi sungai. Berangkat pagi hari tiba pada siang hari. Setelah Pak Udin melihat keadaan Zulfikar dan mengajak anak itu tinggal bersama keluarganya, tanpa pikir panjang ternyata Zulfikar langsung mau ikut bersama Pak Udin.
Zulfikar pun dibawa ke Karimunting oleh Pak Udin bersama Pak Arjuna dengan berboncengan mengendarai sepeda motor. Sebagai tanggung jawab moral, Pak Ja’far bersama isterinya -yang sedang hamil tua- ikut mengantar kepergian Zulfikar dengan mengendarai sepeda motor juga untuk memastikan alamat tempat tinggal Zulfikar yang baru.
Setelah tiba di Karimunting tepatnya dirumah Pak Udin, dan berkenalan sembari beramah tamah dengan keluarga Pak Udin, Pak Ja’far dan isterinya harus segera kembali pulang kerumahnya di Jawai. Dipeluknya Zulfikar dengan penuh kasih sayang, kedua orang tua itu tidak mampu berkata-kata lagi. Matanya berkaca-kaca, air mata deras tak terbendung mengalir dari kedua pelupuk matanya. Seketika suasana menjadi hening, keluarga Pak Udin juga larut dalam keharuan peluk cium kedua orang tua dan anak kecil itu. Setelah berpamitan, Pak Ja’far dan isterinya bergegas pulang.
Dalam beberapa saat, pasangan suami istri itu sudah berlalu bersama desiran angin dan gemercik air laut diiringi hempasan gelombang pantai Karimunting.
^^^^^
16 April 2000 adalah awal Zulfikar Tinggal di Karimunting bersama keluarga Pak Udin.
Pak Udin adalah panggilan populer dari nama lengkapnya Izharuddin Husin AMa.Pd, seorang keturunan Melayu, saat ini berprofesi sebagai Kepala Sekolah di SDN 10 Desa Karimunting Kecamatan Sungai Raya. Isterinya bernama Komariah Ratna, sebelumnya bernama Kresensiana Ratna dan berganti nama menjadi Komariah Ratna setelah memeluk agama Islam dan menikah dengan Pak Udin, biasa dipanggil Bu Ratna, keturunan Dayak dari Desa Lingga Kecamatan Sungai Ambawang Kabupaten Pontianak, berprofesi sebagai guru di SDN 15 Desa Sungai Raya Kecamatan Sungai Raya.
Pak Udin dan Bu Ratna dikaruniai 4 orang anak (2 putri dan 2 putra). 3 dari 4 orang anaknya sudah berkeluarga. dan keluarga Pak Udin sudah dikaruniai 4 orang cucu dari 2 putrinya yang sudah berumah tangga. 1 orang putranya juga sudah berkeluarga tapi belum dikaruniai keturunan. 1 orang lagi putranya yang paling bungsu masih bersekolah di sebuah Pondok Pesantren di Kabupaten Pontianak.
Selain mengajar di pagi hari, keluarga Pak Udin juga bertani dan berkebun jeruk pada sore harinya. Keluarga Pak Udin memiliki sebuah mobil mini bus (mobil penumpang jurusan Singkawang-Sungai Duri).
“Itto’ oto ke yah?”/ ini mobil Pak ya? Sambil tangannya mengusap kaca mobil mini bus itu, “demikian kalimat pertama ketika pertama kalinya Zulfikar tiba di rumah ini” kata Pak Udin mengenang.
Dalam perjalanannya Pak Udin mengganti nama Zulfikar dengan nama “Juniardi” dengan perkiraan tanggal lahirnya pada 16 Juni 1994. Saat ini Juniardi sudah kelas empat SD. Juniardi kelihatannya masih trauma, terlihat dari kecerdasannya yang agak lamban dan minder dalam pergaulan. Keempat anak Pak Udin –sebagaimana kebiasaan orang melayu- dalam kesehariannya masing-masing memiliki panggilan. Anak yang sulung/paling tua dipanggil Allung, yang kedua dipanggil Angah, yang ketiga dipanggil Udde, dan yang bungsu/keempat dipanggil Usu. Dalam keluarga Pak Udin, Juniardi juga mendapat panggilan yaitu Unggal, kependekan dari “Tunggal” (bahasa Melayu untuk anak tunggal, atau setara dengan makna sebatang kara atau yatim piatu)
Suka duka hidup bersama keluarga Pak Udin. Unggal tetap sebagai anak yang nakal. Karena kenalannya itu pula, Pak Udin sempat terpikir untuk menitipkan Unggal ke Panti Asuhan, tapi isteri Pak Udin, Bu Ratna tidak tega melepaskan Unggal. Bu Ratna sangat menyayangi Unggal, demikian juga anak-anaknya.
“Walaupun keluarga kami marah kepada Unggal, bukan karena benci tapi semata-mata karena kami sangat menyayanginya. Kadang pulang sekolah, Unggal pergi bermain bersama teman-temannya dan baru pulang sore hari sampai lupa makan sehingga kami memarahinya”. Ungkap Bu Ratna didampingi Pak Udin, sementara Unggal disampingnya hanya nyegir tersipu.
Pernah suatu saat, waktu senja sudah tiba, menjelang masuk maghrib Unggal belum juga pulang kerumah sejak sore hari ikut teman-temannya bermain kelayang, padahal Unggal harus mengaji. Pak Udin sibuk mencarinya kesana kemari, dalam keadaan hampir putus asa bercampur emosi, Unggal ditemukan bersebunyi dibalik sebuah sampan dibawah kolong rumah tetangga. Unggal dibawa pulang dan dipukul kakinya dengan sebuah ikat pinggang. Unggal pun hanya bisa menangis. Rasa iba Pak Udin muncul, setelah ditanya kenapa Unggal terlambat pulang dan malah bersembunyi? Unggal menjawab sambil terisak, bahwa dia ditakut-takuti teman-temannya kalau pulang akan dipukul oleh Pak Udin, sehingga membuat Unggal tidak berani pulang dan bersembunyi dibawah kolong rumah tetangga.
“Setelah melihat anak itu bersedih saya sangat menyesal, dan saya tidak pernah memukulnya lagi sampai saat ini. Saya jadi berpikir, seandainya suatu saat saya meninggal dan anak saya dipukuli orang, kalau saya tahu hal itu tentu perasaan saya akan terluka. Apalagi dia anak yatim piatu, kalau dia saya perlakukan kasar dan sampai menangis. Dalam kesedihannya yang mendalam, kemana dia akan mengadu? Unggal kurang lebih lima tahun bersama kami, bagi kami Unggal bukan orang lain lagi, dia sudah menjadi bagian dari keluarga kami” jelas Pak Udin dengan mimik mukanya jauh menerawang kebelakang.
Kadang Unggal juga teringat akan sepenggal perjalanan masa lalu bersama kedua orang tuanya, walaupun lupa akan nama bapaknya yang asli, konon bapaknya biasa dipanggil “Pak Konteng”. dan ketika kerusuhan terjadi, seorang kakak perempuannya sedang bekerja di Malaysia. Sampai sekarang Unggal tidak tahu nasib kakak perempuannya itu. “Pernah juga terpikir, suatu saat saya ingin mengajak Unggal jalan-jalan ke Jawai untuk melihat-lihat keadaan disana, mungkin saja dia akan ingat kampung halaman dan keluarganya sewaktu dikampung dulu. Tapi perasaan saya diliputi kekhawatiran kalau hal itu justru akan membangkitkan trauma masa lalunya”. Ujar Pak Udin gundah. “Biarlah kenangan kelam masa silam itu tenggelam bersama tenggelamnya matahari kala senja diufuk barat Karimunting. Kalaupun harus muncul kembali, ingatan itu akan muncul laksana terbitnya matahari di pagi hari yang membawa secercah harapan untuk masa depan.” Tambah Pak Udin optimis.
Hidup sebagai keluarga berkecukupan tidak lantas membuat keluarga ini lupa diri. Pak Udin dan Bu Ratna selalu bersyukur dan memberikan motivasi kepada anak-anaknya bahwa dibalik pahit manisnya kehidupan tersimpan hikmah yang mendalam. Apalagi kalau mengingat masa lalu ketika awal ditugaskan menjadi guru didaerah pedalaman Sanggau Kapuas. Dari tempat tinggal menuju tempat mengajar setiap hari harus berjalan kaki turun naik bukit selama dua jam melalui jalan setapak. Hal ini diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi keluarga Pak Udin bahwa kerja keras yang disertai do’a tidak akan berakhir sia-sia.
Kehadiran Unggal ditengah keluarga Pak Udin membuat keluarga itu semakin merasakan dinamika hidup berkeluarga. Karena kenakalannya Pak Udin terkadang emosi dan marah pada Unggal, tapi pada saat yang bersamaan pula Pak Udin akan mendapat teguran dari isteri atau anaknya.
Selain Yang Maha Kuasa, rasanya tidak ada seorangpun yang dapat memisahkan keluarga ini. Unggal juga sudah sangat menyatu dengan cucu-cucu Pak Udin dan Bu Ratna. Unggallah yang kadang mengasuh cucunya kalau kebetulan orang tua cucunya itu sedang ada kesibukan.
Pernah juga suatu saat, anak Pak Udin harus pindah rumah dan cucunya harus ikut bersama orang tuanya sementara Unggal tetap tinggal bersama Pak Udin. Setelah pindah selama seminggu, kesehatan cucu Pak Udin semakin hari semakin menurun, dan kemudian anak itu jatuh sakit. Mendengar kabar tersebut, Pak Udin lantas mengajak Unggal untuk menjenguk cucunya.
“Sesampainya ditempat sang cucu, ketika melihat Unggal datang, anak itu langsung menangis dan Unggal pun segera memeluknya dengan erat. Perlahan anak itu bangun dan kondisinya berangsur pulih.” Kenang Pak Udin dengan mata berkaca-kaca.
Pak Udin selalu optimis, dalam asuhan keluarganya, kelak Unggal akan tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik, dewasa dan mandiri sebagaimana anak-anaknya yang lain.
Unggal, seorang anak korban kerusuhan Sambas, dengan perjalanan hidupnya yang terjal, berliku dan penuh romantika, kini tinggal bersama sebuah keluarga yang sangat menyayanginya. Lantas bagaimana nasib Unggal-Unggal yang lain?
^^^^^
(Kisah ini kutulis di tahun 2005, saat bersama teman-teman terlibat dalam kegiatan active non-violence resistance bersama Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian Universitas Gajah Mada (PSKP-UGM). Naskah ini (entah karena alasan apa) tidak dimuat dalam buku “Perlawanan Tanpa Kekerasan”. Entah kenapa pula hari ini aku ingin memuatnya dalam catatanku.
Sekitar setahun yang lalu, seorang sahabat di Karimunting mengirim kabar bahwa Pak Udin wafat, diduga keracunan saat bekerja menyemprotkan racun serangga di kebun jeruknya. Selamat Jalan Pak Udin, guru, sahabat, dan teladanku. Damailah di alam sana).