Ayat-Ayat Kematian

Oleh; Subro

Kemaren, 8 Juli 2009, nenekku wafat. Dia sangat menyayangiku. Bahkan aku merasa, akulah cucu tersayangnya. Dua hari sebelumnya aku sempat mencium tangannya, kemudian keningnya. Firasatku ketika itu seakan berkata lain.
Ketika nenek dalam sakaratul maut, aku masih dalam perjalanan pulang. Melalui telepon genggamku aku terus memantau perkembangan, melalui ibu, paman, kakak, dan kerabat lainnya.
Aku minta pengertian mereka, aku harus mengantar istri dan anakku dulu ke rumah mertua. Anak dan istriku tak mungkin turut serta, istriku sedang hamil tua menunggu masa kelahiran anak kami berikutnya. Malam, cuaca, jarak yang jauh, jalan berbatu, itulah sederet alasannya.
Kepada paman aku bilang bahwa aku dalam perjalanan, kudengar dari deru sepeda motornya bahwa paman juga dalam perjalanan menuju rumahku.
Setibanya paman dirumahku, pamanku pun mendapati nenek sudah dalam kesulitan. Dilandasi rasa tak tega, paman mengatakan pada nenek bahwa aku sudah merelakannya. Nenekku lantas menjemput ajal dengan tenang.
Prosesi fardlu kifayah segera dilaksanakan. Dimandikan, dikafani, kemudian dishalatkan.
Diistirahatkan di ruang depan menunggu waktu pagi untuk dimakamkan

Sampai di rumah kudapati jasad nenek sudah terbungkus putih-rapi. Segera aku berwudlu, menyalatkan dan larut dalam barisan para pendo’a. Dibelakang kulihat kakak laki-laki dari nenekku duduk tenang sambil komat-kamit. Kami memanggilnya mba.

Kami terlibat obrolan santai sementara menunggu pagi tiba. Sebagian anggota keluarga kulihat ada yang sudah tertidur, kecapean tentu. Pamanku yang lain bertanya kepada mba
Siapa nama bapaknya nenek yang tentu saja bapaknya mba juga.
“Mail”, jawab mba. Aku yakin nama lengkapnya “Ismail”
Jadi, nama lengkap almarhumah nenek kami “Fatimah binti Ismail”. Arab banget.

Akupun menimpali pertanyaan paman dengan menanyakan nama ibunya mba kepada mba.
Setelah dijawab, aku melanjutkan pertanyaan, “Tapi kalau nama mbanya mba, mungkin mba sudah lupa ya?
“Masih ingat kok”, jawab mba
Kemudian dengan lancar mba menyebut satu persatu nama bapaknya, ibunya, neneknya, dan kakeknya. Mba juga cerita tentang dia waktu muda yang ikut mbanya bekerja cari upah jadi penggali parit di kampung yang dulu pernah kami tinggali dan kemudian kami tinggalkan setelah terjadi kerusuhan sosial. Tahun 1999.
Mba juga masih mampu mengingat “Zaman Belanda” sampai “Zaman Jepang”.
Duh, Ternyata aku generasi ke-lima di negeri yang kami sering kali dicap sebagai “pendatang” ini. Tanah gambut di sini menghantarkan dingin dari celah lantai papan rumah kami. Dan aku pun tertidur.

^^^^^
Fajar menyingsing. Suara adzan pun menggema bersahut-sahutan. Segera aku bergegas menuju parit kecil depan rumahku. Berwudlu dan shalat subuh. Satu persatu anggota keluargaku bangun, shalat, dan bergegas dengan kesibukan masing-masing.
Perlahan sinar mentari menerpa permukaan bumi. Para pelayat satu persatu mulai tampak memenuhi rumahku. Ada yang membawa beras, gula, kopi, buah kelapa, dan ada yang menyalamiku dengan uang. Ada yang menuju ke dapur, ada yang menuju ke halaman.
Di belakang kulihat bapak-bapak menyiapkan perapian untuk ibu-ibu yang akan memasak.
Di halaman rumah tampak sekelompok laki-laki menyiapkan peralatan pertukangan, sebagian dari mereka ada yang bolak-balik mengangkut kayu, ada yang mengetam papan, ada yang mengukur, ada yang menggergaji, dan jadilah bentuk peti.
Pergerakan awan perlahan tampak mulai menghalangi terpaan mentari di pagi ini.
Kabar dari kuburan menyatakan liang kubur sudah hampir rampung. Jam menunjukkan 08.15. Pagi.
Kami pun berembuk untuk segera memakamkan nenek, khawatir cuaca mendung akan segera turun hujan. Lagi pula tidak ada keluarga yang ditunggu, semua sudah berkumpul.
Ibuku sebagai saudara tertua dari anak-anak nenek menganggukkan kepala tanda setuju. Matanya sembab, menangisi kepergian ibunya.
Mayat nenek kami angkat memasuki keranda untuk kemudian kami pikul menuju area pemakaman.
“sebentar, tunggu dulu” suara dari belakang
“tunggu bibi” tambahnya
“mana bibi?” tanyaku
‘masih pulang sebentar”
Tadi bibi pulang sebentar karna ada keluarga yang datang melayat ke rumahku sekalian mau kerumahnya melihat suaminya yang sedang sakit.
Tidak lama bibi sudah tampak bergabung dengan kami. Empat orang bersiap-siap memikul keranda.
Ketika keranda sudah di depan pintu, seorang ustadz tampil ke depan mengucapkan salam dan kutipan “ayat-ayat kematian” berikut kalimat duka, seraya mengucapkan terima kasih atas segala bantuan para pelayat baik moril maupun materil, memohonkan maaf bagi nenek kepada para hadirin dan pernyataan jika selama hidupnya almarhumah memiliki janji atau hutang yang belum terbayar dipersilahkan untuk menghubungi pihak ahli waris, keluargaku.
Setelah prosesi adat selesai, perlahan keranda berangkat menuju area pemakaman diiringi kalimat tahlil “laa ilaaha illa Allah Muhammad rasul Allah” secara serempak. Kami berjalan berjejer memanjang di belakang keranda.

^^^^^

Tiba di area pemakaman, keranda diturunkan dari pundak para pemikul. Mayat dikeluarkan dari keranda, dimasukkan ke peti. Lokasi kuburan nenekku berdekatan dengan kuburan ayahku yang 3 tahun lalu mendahului nenek.
Para penggali kubur sibuk menguras air yang menggenangi liang kubur. Ada enam orang, satu orang tampak lebih tua, mungkin usianya sekitar 40 tahun. Selebihnya masih muda-muda, usianya kuperkirakan tak lebih dari 20 tahun. Belakangan kuketahui yang lebih tua itulah ketuanya. Ketua regu penggali kubur.
Peti siap dimasukkan ke dalam liang kubur. Penggali kubur yang lain mulai naik satu persatu, seorang penggali kubur masih berada di dalamnya.
“sekalian Sigit adzan” kata salah seorang dari mereka.
Terdengar suara merdu penggali kubur itu adzan berkumandang dari dalam liang lahat disusul kemudian suara iqamah.
Dan, peti pun diturunkan ke dalam liang kubur, dengan bantuan tali terutas di empat penjuru yang dipegang dan diulur perlahan, kemudian perlahan pula lubang itu ditutupi dengan tanah.
“Awas, Sigit nanti ikut terkubur” kata temannya yang lain bergurau.
Sigit naik dari dalam lubang itu, dan dengan cangkul, tangan, dan peralatan lainnya dari para penggali kubur dan pelayat, kuburanpun sudah tertutup tanah. Setelah dipasang batu nisan, seorang pemuka agama mengajak hadirin untuk berdiri kemudian beliau membaca talqin dalam bahasa Arab samar-samar kupahami berisi “ayat-ayat kematian”, penegasan kebenaran janji-janji Tuhan akan kehidupan sesudah dunia, dan datangnya dua malaikat yang akan mengajukan pertanyaan lengkap dengan kunci jawabannya. Pertanyaannya; siapa Tuhanmu, siapa Nabimu, apa Agamamu, siapa Imammu, dimana Qiblatmu, dan siapa Saudaramu.
Nenekku disarankan untuk menjawab dengan lisan yang fasih dan keyakinan yang sahih; Allah Tuhanku, Muhammad Nabiku, Islam Agamaku, Al-Quran imamku, Ka’bah Qiblatku, dan Muslimin-Muslimat saudaraku. Kemudian ditutup dengan do’a.
Sementara para pelayat pulang ke rumah masing-masing, aku masih perlu untuk berdoa diatas pusara nenekku tercinta. Ya Allah, ampunilah dia.....

^^^^^

Dalam perjalanan pulang dari kuburan, kulihat para penggali kubur sedang istirahat sambil menyantap makanan ala kadarnya yang dikirim dari rumahku. Salah seorang dari mereka menawari aku makan, aku ucapkan terima kasih. Aku mengagumi para penggali kubur itu. Aku ingat salah satu dari mereka itu. Sigit.
Ya, itulah Sigit, satu dari anggota penggali kubur yang 5 tahun lalu sebagai siswa SMP Terbuka yang pernah terpilih mewakili Kalimantan Barat dalam ajang olimpiade bidang studi di Jakarta setelah menjuarai ajang olimpiade tingkat sekolah, desa, kecamatan, kabupaten, dan propinsi. Aku mengenalnya karena dulu beberapa kali kami ajak Sigit dan teman-teman sebayanya berdiskusi dan bermain dalam program pendidikan pluralisme dengan menggunakan komik GEBORA.
Aku juga pernah berdiskusi dengan guru pembimbingnya, Pak Bani, guru yang penuh optimisme dengan semangat juangnya yang tinggi untuk memajukan pendidikan anak-anak di daerah itu. Madani, namanya. Sebuah lokasi hutan belantara yang disulap jadi tempat pemukiman. Lebih tepat, tempat pembuangan.
Tempat dimukimkannya sebagian para pengungsi korban kerusuhan Sambas. Sebagian besar orang keturunan Madura. Sebagian ada orang Melayu, Dayak, Tionghoa, Jawa, yang juga terusir lantaran memiliki hubungan dengan istilah “Madura”.
Pak Bani orang Jawa, dia tinggal di Pontianak. Jarak dari rumahnya ke tempat dia mengajar di Madani sekitar 60 kilo meter. Kadang pulang-pergi, kadang pula menginap. Dia cerita bahwa Sigit punya kecerdasan, bahkan teman-temannya juga tidak terlalu bodoh, hanya kehidupan mereka memang terisolir di tengah hutan belantara. Soal kemudian berubah menjadi pemukiman yang layak huni, itu karna tipikal masyarakatnya yang siap membatu kalau berada di gunung dan mengkayu kalau berada di hutan.
Dia juga pernah mengeluh kesulitan biaya ketika akan membawa Sigit ke Jakarta. Entah dapat jalan keluar darimana sehingga kemudian mereka bisa berangkat. Entah pula dapat juara atau tidak, bagiku bisa berangkat ke Jakarta saja itu sudah prestasi.
Lama tidak bertemu, aku tidak tahu sampai tamat setingkat apa Sigit bersekolah.
Sigit kini jadi penggali kubur. Badannya kekar berotot, tampak agak legam diterpa panas matahari khatulistiwa konsekuensi dari tugasnya sebagai penggali kubur. Hidup dengan cita-cita setinggi langit dengan realitas sedalam liang lahat. Sigit tidak sedang mengubur impiannya. Dia menggali masa depannya, mengubur masa lalunya. Hidupnya tidak lagi di angan-angan. Hidupnya kini bergelimang lumpur. Lumpur kewajiban. Kelak di liang lahat yang sama cita-citanya akan abadi.
Perasaanku berkecamuk antara sedih dan malu. Sedih, ditinggal nenek tercinta. Malu, Sigit serasa menamparku sambil berteriak lantang, “Siswa berprestasi itu kini jadi penggali kubur”.


Madani, 11 Juli 2009
Dimuat di Pontianak Post, Minggu, 26 Juli 2009.
Share on Google Plus

Tentang Unknown

Lahir di Karimunting, Sungai Raya Kepulauan, Sebuah desa di Pesisir Bengkayang Kalimantan Barat. Bertumbuh kembang dari situasi sosial Kalimantan Barat yang kadang adem ayem, kadang menegangkan, kadang mencekam, dan kadang kabut asap. Kini tinggal di Relokasi SP 1 Madani, Mekar Sari, Sungai Raya Kubu Raya.
Diberdayakan oleh Blogger.