Mengenal Lebih Dekat Manusia Madura

Judul Buku : MANUSIA MADURA: Pembawaan, Prilaku, Etos Kerja, Penampilan, dan Pandangan Hidupnya seperti Dicitrakan Peribahasanya.
Penulis : Prof. Mien Ahmad Rifa’i, B.Sc., M.Sc., Ph.D.
Penerbit : Pilar Media Yogyakarta
Tebal Buku : xii + 504 halaman
Cetakan I : Maret 2007
Peresensi : Subro


Orang Madura merupakan ‘the most favourable people’ yang watak dan kepribadiannya patut dipuji dan dikagumi dengan setulus hati. Tidak ada kelompok masyarakat di muka bumi ini yang dalam menjaga perilaku dan moral hidupnya begitu berhati-hati seperti diperlihatkan oleh orang Madura. Mereka sangat bersungguh-sungguh dan lugu serta lugas dalam berkata-kata. Oleh karena itu, kalau orang Madura menyatakan sesuatu maka memang demikianlah isi hati pikirannya, dan jika mengungkapkan suatu bentuk sikap tertentu biasanya karena memang begitulah muatan batinnya.(Emha Ainun Nadjib, Budayawan, 2005).

Buku ini (menurut penuturan penulisnya) sebagian besar naskahnya sudah dirampungkan pada awal tahun 1997, dan sempat tertunda terbitnya akibat adanya tragedi konflik etnis di Kalimantan dan konflik sosial lain di Indonesia yang mengakibatkan ciutnya gairah penulisnya untuk menyelesaikannya karena khawatir melahirkan tuduhan pembelaan sepihak sehingga dapat memperuncing suasana. Pun sesudah keadaan mereda, keengganan untuk meneruskannya masih dirasakan penulisnya, syukurlah berkat dorongan beberapa “intelektual Madura” (antara lain, Prof. Dr. Wardiman Djajanegara, R.P. Mohammad Noer, dan Prof. Dr. Ir. Zuhal), sepuluh tahun kemudian buku ini diterbitkan dengan keyakinan bahwa kehadiran buku ini selain menambah pemahaman yang lebih baik tentang orang Madura, juga akan mampu menumbuhkan keharmonisan sosial dalam keragaman kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.(hal. vi).

Kegelisahan penulisnya sungguh menunjukkan sebuah sikap andep asor sekaligus ksatria dengan penuh pertimbangan seorang ilmuwan untuk peduli terhadap situasi sosial yang terjadi sebagai bentuk tanggung jawab kemanusiaannya. Sikap ini juga kiranya menjadi kritik sosial bagi para akademisi, penulis, jurnalis, dan praktisi sosial kemasyarakatan yang (ketika terjadi konflik sosial, sebagian dari mereka) acap kali terjebak menjadi pelaku konflik dengan peranannya yang berbeda dengan sikap dan prilakunya, melahirkan tulisan, komentar, dan tanggapan yang tidak jarang justru menambah runyamnya persoalan dan menjadi penebar kebencian antar sesama anak bangsa.

Buku setebal 504 lebih halaman ini memang tidak mendefinisikan secara verbal siapa sebenarnya manusia Madura itu. Karena memang sejarah leluhur suku bangsa Madura banyak versi kalaupun tidak untuk dikatakan kontroversi, disamping dialektika perkembangan zaman yang semakin kompleks turut pula mempengaruhi Madura. Pengertian manusia Madura yang dipergunakan dalam buku ini mencakup juga orang-orang yang dalam menjalani kehidupan sehari-hari dengan sepenuhnya menjiwai, menghayati, dan mengamalkan nilai budaya dan norma peradaban Madura, jadi bukan dalam konteks rasial dengan arti etnisnya yang sempit.(hal. vii-viii).

Pencitraan manusia Madura melalui ungkapan atau peribahasa Madura juga kadangkala dipengaruhi oleh budaya lain di nusantara ini, khususnya Jawa, maupun dari benua lain seperti India, Cina, Belanda, dan Arab sebagaimana pula yang terjadi pada bahasa Indonesia. Lunde & Wintle (1984) mengatakan bahwa peribahasa tidak mengenal perbatasan, baik negara, bangsa, bahasa, budaya, suku, ataupun agama sehingga saling pinjam meminjami peribahasa dapat terjadi dengan bebas.(hal. 10-11).

Kehadiran buku ini diharapkan mampu menjernihkan pandangan berbagai pihak tentang Madura terutama bagi orang Madura itu sendiri, termasuk didalamnya persoalan stereotipe orang Madura yang sudah terbentuk sejak zaman (dan memang untuk kepentingan) kolonial Belanda dalam mencengkeramkan kukunya di bumi nusantara. Ibarat bola panas nan liar, stereotipe itu terus berkembang sampai sekarang. Stereotipe sama sekali tidaklah mencakup hal-hal yang berkaitan dengan kebenaran objektif, tetapi lebih meliputi hal-hal yang berkenaan dengan ilusi atau khayalan yang dimiliki bersama oleh banyak orang. Bagi stereotipe tidaklah penting apakah citra yang dihasilkannya secara faktual tepat, apakah beberapa di antaranya mungkin benar adanya, atau apakah hanya sebagian saja yang mengandung kebenaran. Sebagian orang percaya bahwa pencitraan itu benar, dan jika demikian halnya stereotipe itu memang masih memunyai makna dalam menuntun pikiran dan tindak tanduk manusia.(hal. 129).

Buku ini dibagi menjadi tujuh bagian yang terdiri dari; Bagian 1 Pendahuluan, Bagian 2 Melihat Ke Belakang, Bagian 3 Dari Luar Melihat Ke Dalam, Bagian 4 Dari ‘Dalam’ Melihat Ke Dalam, Bagian 5 Dari Dalam Melihat Ke Luar, Bagian 6 Melihat Ke Depan, dan Bagian 7 Penutup. 

Dengan menggunakan ejaan yang bertaat asas, buku yang ditulis oleh pakar bahasa (selain kepakarannya di bidang biologi) ini menjadi cukup mudah untuk dibaca dan dipahami pembacanya. Kendatipun buku ini tidak dilengkapi dengan indeks (barangkali ini salah satu kekurangannya), akan tetapi objektifitas serta keintelektualan penulisnya terlihat dari kepiawaiannya meramu berbagai referensi “pahit-manis” manusia Madura sepanjang zaman dalam halaman demi halaman yang saling bertautan.

Kiranya tidak berlebihan bahwa buku ini layak dibaca oleh para akademisi dan praktisi kehidupan. Dan kepada orang Madura, salah seorang Putera Madura bernama lengkap Prof. Mien Ahmad Rifa’i, B.Sc., M.Sc., Ph.D, yang keilmuannya diakui dunia telah merekam jejak perjalanan manusia Madura, dan dalam buku inilah pahit-getirnya orang Madura disajikan secara terbuka dan setulus hati. Selaras dengan ungkapan Madura, “Asel ta’ adhina asal”(hal. 385). Baca dan renungkan!

Sebagaimana harapan penulisnya di awal tulisannya, tidaklah berlebihan pula kalau kehadiran buku ini selain menambah pemahaman yang lebih baik tentang orang Madura, juga akan mampu menumbuhkan keharmonisan sosial, sebagai unsur penyusun kemajemukan bangsa Indonesia. Semoga.

(Dimuat di Majalah KALIMANTAN REVIEW, April 2008)
Share on Google Plus

Tentang Unknown

Lahir di Karimunting, Sungai Raya Kepulauan, Sebuah desa di Pesisir Bengkayang Kalimantan Barat. Bertumbuh kembang dari situasi sosial Kalimantan Barat yang kadang adem ayem, kadang menegangkan, kadang mencekam, dan kadang kabut asap. Kini tinggal di Relokasi SP 1 Madani, Mekar Sari, Sungai Raya Kubu Raya.
Diberdayakan oleh Blogger.